Kamis, 21 Januari 2010

Past, Present, dan Future..


Surat Pertama

Dari. : aku di hari kemarin (Past)
Untuk: aku di hari ini (Present)

Hai Present, bagaimana kabarmu? Err.. Aku mau menyampaikan hal penting.. Jadi gini..aku kemarin telah melakukan banyak kesalahan, kebodohan, dan ketidakpentingan dalam hidup ini.. Ya.. Semua itu sudah terjadi, dan tentu saja aku cuma bisa menyesal.. Terus.. Aku mau minta tolong sama kamu supaya kamu bisa memperbaiki kesalahan, kebodohan, dan ketidakpentingan yang telah aku lakukan.. Aku percaya bahwa kamu bisa lebih baik dari aku.. Amin..

Surat Kedua

Dari : aku di hari ini (Present)
Untuk: aku di hari kemarin (Past)

Halo Past,, suratmu uda aku terima.. Uda aku baca juga.. ehehe.. Jadi.. Err.. Di surat ini aku sebenernya mau minta maaf.. Bahwa ternyata aku belum bisa memenuhi keinginanmu.. Niatnya sih aku pengen memperbaiki kesalahan, kebodohan, dan ketidakpentingan yang udah kamu lakukan di masa lalu.. Tapi apa daya.. Aku belum bisaa.. Maap2.. Gini aja,, aku mau nulis surat untuk Future,, supaya dia bisa mewujudkan harapan kita.. Sip2?? Mudah2an Future bisa yaa.. Amiiiin..

Surat Ketiga

Dari : aku di hari ini ( Present)
Untuk: aku di hari esok (Future)

Hai Future,, kenalin ini aku Present.. Aku ini bagian dari masa lalu kamu.. Err.. Jadi gini, kemarin Past minta tolong ke aku untuk bisa memperbaiki hidup.. Lhah.. Tapi ternyata.. Karena keterbatasanku, aku belum bisa memperbaiki hidupku, aku masih saja melakukan kesalahan, kebodohan, dan ketidakpentingan.. Nah.. Jadiii.. Dengan sangat aku minta tolong padamu.. Untuk dapat mengubah dan memperbaiki hidup, supaya bisa lebih baik dari aku (present) dan Past.. Aku tau itu tidak mudah.. Tapi aku dan Past percaya bahwa Future pasti mampu..Ayo future,, semangaaaaaat..! Aku dan Past pasti akan selalu mendoakanmu.. Sukses yaaa.. Tuhan memberkati..

Selayaknya anak kecil..


Selayaknya anak kecil Aku tertarik dengan apa yang dipikirkan anak kecil.
Sadarkah aku? sadarkah kamu? sadarkah kita?
Bahwasannya pemikiran mereka itu sederhana, namun tidak memiliki batas..
Seolah - olah mengisyaratkan bahwa pemikiran mereka itu tidak terbentur pada segala macam bentuk sekat..
Bayangkan, seorang anak kecil tetap berlari, tetap tersenyum, tetap gembira, sekalipun yang ia tuju sebenarnya adalah bahaya..
Aku tahu, mungkin kamu akan berpikir: "Ah..itu kan karena anak kecil itu tidak tahu apa - apa.." Awalnya aku sempat berpikir sama denganmu..
Aku sempat mengira bahwa ketidaktahuan lah yang membiarkan anak kecil itu melakukan apa yang ia suka..
Tapi lantas aku kembali berpikir..
Anak kecil itu sudah cukup besar, bukan lagi bayi..
aku yakin bahwa anak kecil itu tahu kalau api itu panas, kalau pisau itu tajam, dan air bisa membuatnya basah..
ya,, anak kecil tahu akan hal itu..
namun dengan pengetahuannya, anak kecil masih tetap saja mendekati bahaya..

Bagaimana dengan orang dewasa?

aku rasa orang dewasa memiliki pemikiran yang sungguh teramat kompleks, ruwet..!
sebagai contoh..
ketika aku mau mau pergi ke bengkel, banyak hal yang terlintas di pikiranku, semacam: mau berangkat jam brapa? di mana? bagaimana kalau nanti penuh dan harus antri lama?aku harus menunggu berapa lama? aku harus bawa apa saat menunggu? sudahkah aku bawa dompet dan hp? oya, bagaimana juga kalau nanti hujan? perlukah aku makan dulu? apa sebaikna aku tinggal saja? haruskah hari ini?...
begitulah.. banyak hal yang orang dewasa pertimbangkan..
hingga saking banyaknya pertimbangan, terkadang suatu langkah maju terpaksa harus dibuat mundur ke belakang..
ironi..

tidak bisakah kita berpikir secara lebih sederhana?

selayaknya anak kecil yang berani mengambil resiko seolah tidak punya urat takut..
selayaknya anak kecil yang tetap tertawa ceria menikmati harinya sekalipun bahaya merintang..
selayaknya anak kecil yang tetap akan duduk di atas tanah, sekalipun tanah itu kotor dan becek..
selayaknya anak kecil yang polos yang tidak pernah perduli akan hari esoknya, yang ia pikirkan hanyalah ia saat ini..
selayaknya anak kecil yang memang sungguh menikmati dunianya, hidupnya, dan keberadaan orang - orang di sekitarnya..
ya.. terkadang sebagai orang dewasa kita memang perlu belajar dari anak kecil.. bukan mempelajari bagaimana caranya menangis, caranya merengek, atau caranya merajuk.. melainkan..

BELAJAR BAGAIMANA KITA TETAP BERTUMBUH DI TENGAH KETIDAKPASTIAN DUNIA..

(",) hew3x..